NOKTURNA, Sang Flaneur Yang Tidak Boleh Tidur

Penyair ini, Karim Mohd terkurung setahun di Cyberjaya setelah keluar dari alam desa yang menjadikan laut sebagai tetangga melepaskan duka. Di Cyberjaya dia menemukan kota, kehidupan kota di rooftop, kafe, tiang-tiang besi, menara batu, kaca-kaca, lorong kecil pejalan kaki, manusia dan bas mengelilingi Putrajaya dengan modal lima puluh sen. Merokok di bumbung untuk melihat langit yang lebih luas dan lapang daripada melihat langit dari tingkap jendela. Dari sini dia mendapat imej-imej, suara, bulan dan matahari untuk menuliskan sajak-sajaknya, dan kemudian terhasillah buku kumpulan puisi ini – Nokturna.

Dia merayau dan menjadi sang flaneur, perayau sepertimana Charles Baudelaire penyair romantis abad ke-19. Tentunya Karim bukan Baudelaire. Tetapi Karim adalah sang flaneur, petualang kota (urban explorer) yang meneroka pengalaman dunia moden. Walter Benjamin yang menghurai; memuja flaneur sebagai simbol agung bagi sarjana, seniman dan sasterawan. Benjamin memadamkan konotasi negatif flaneur yang muncul pada zaman feudal iaitu perayau-perayau kaum agraria yang tidak mempunyai tanah dan merempat. Benjamin bukan bercakap tentang mindless flaneur agraris feudal ini, tetapi bercakap tentang intelligent flaneur iaitu petualang dunia moden yang menjadi penutur serta pemikir kepada kesedaran intelektual serba kompleks.

Seniman petualang yang membawa bersamanya kecerdikan dan kebijaksanaan untuk memahami kompleksiti dunia moden – mengembara secara akal dan jiwa, berpeleseran di dalam kehidupan yang serba sulit dengan penuh kesedaran filsuf. Flaneur adalah sang falsafah sekaligus sang imaginatif. Ia merupakan pemikir dunia moden dan pascamoden yang melihat dunia, berada di pusat perkembangan dunia, namun kekal tersembunyi dari dunia (to see the world, to be at the centre of the world, and yet to remain hidden from the world). (Benjamin 1983: 54).

Sang flaneur hidup berperang dengan mimpi-mimpinya, menerima dan menolak sehingga seringkali tidak lagi mengetahui yang mana mimpi dan yang mana kenyataan, apakah dia sedang tidur atau sedang jaga. Ia tidak melihat dirinya lagi tetapi terapung melihat dirinya sebagai objek manusia yang lain; jika di bangku stesen kau lihat seseorang/ tunduk dengan airmata berjejeran/ memeluk tubuh lalu menulis sajak ini/ itu bukan aku/ bukan aku. Dia sentiasa mengingin tidur tetapi dia adalah perayau yang tidak dapat menemukan tidur; di tengah kota terhampar sebidang tilam/ segala leher yang merindukan bantal – dipatahkan. Sesekala ketika mengusung sepi dan ditelanjangkan matari, kota mengingatkan dari mana dia datang – laut tetangga berkongsi duka. Dan dia terus keseorangan di kota tanpa laut.

Kota muncul sebagai medan perang dan dunia semakin tidak difahami berserak kelabu. Perayau seperti mengendarai mimpi yang tidak ke mana-mana. Lalu dia merindui dirinya sendiri yang hilang tapi kemudian menyedari; aku di kota/ aku di kota. Mimpinya juga pernah dicuri, tetapi lebih menyedari bahawa dia mencintai dirinya sendiri; berasa tidak cukup sekadar itu. Dia entah mengapa ketika setiap pagi masuk ke dapur memikirkan; pernikahan daging dengan mata pisau/ yang akan tumpah – darahkan itu?. Perjalanan sang flaneur selalu tertembok dengan paradoks; aku ingin keluar tetapi/ aku masuk/ aku ingin kembara tetapi/ aku diam/ aku ingin bermimpi tetapi/ aku tidak dapat tidur.

Jendela selalu dilihat sebagai mata yang lain (kaca jendela bas juga), yang harus dibuka setiap hari tetapi di mata yang lain ini juga dia ingin melenyapkan dirinya; di muka jendela ini/ kubunuh diriku setiap hari/ dan aku tidak mati. Setelah begitu jauh merayau dan memasuki ruang kesunyian dirinya sendiri akhirnya dia tahu bahawa dia cuma ingin jadi puisi atau apa-apa yang cepat dilupakan. Sajak ini mengakhiri 17 sajak ‘hari-hari tanpa mimpi’, menerawang perjalanan sang flaneur yang berpeleseran dalam kehidupan serba sulit, meneroka hidup serba moden dengan dirinya yang penuh ironi, kontradiksi dan paradoks. Karim adalah penyair dalam dunianya yang tersendiri, dunia sepi dan kecil tetapi hidup menjadi besar dan bertenaga. Ia seperti kanak-kanak yang masuk ke dalam almari dan tiba-tiba mendapati dirinya berada dalam dunia fantasi yang meluas ke langit.

Inilah sang flaneur yang merayau-rayau di dalam dirinya dan menjadikan imej-imej kecil seperti kamar, katil, jendela, dinding, lantai, bumbung menjadi besar dan hidup. Sesekali perasaannya tertolak ke dalam melihat wajah ibu/emak yang memberinya rahim kehidupan, dan membuat hatinya sering ingin kembali ke dalam kelambu masa kecil. Matahari dan bulan adalah cahaya perjalanan sang flaneur, walaupun hanya datang dari jendela atau bumbung terbuka. Sajak-sajak dalam Nokturna sangat menemukan diri seorang Karim Mohd. Kerana percaya bahawa dirinya ditemukan maka dia tidak lagi memakai samaran AK Kelana, dan harus mendepani dunia dengan nama tubuhnya yang asli. Dan Nokturna lahir sebagai hasil yang avant garde dalam dunia sastera anak muda hari ini. Malah mengejutkan!

Nokturna dilihat luar biasa, dengan kata-katanya tetapi seperti kata Iman Danial dalam satu sesi bicara buku, jika ditarik satu persatu diksi dan rupa Aan Mansyur, Sapardi Joko Domono, Latiff Mohidin atau Muhammad Hj Salleh dan T. Alias Taib di mana pula Karim Mohd. Benarkah sajak-sajak Nokturna berdiri dengan diksi-diksi ‘pinjaman’ atau sememangnya sang flaneur ini adalah perayau yang menemukan dan mengutip apa yang baik ditemuinya untuk dibawa di dalam nyalinya. Sangat ambivalens dan ambiguiti Nokturna ini, ya sulit ditanggapi bagaimana bangunnya diksi-diksi yang paradoks dan luar biasa. Tetapi Nokturna tetap bangun sebagai sajak-sajak yang sangat memberikan kenikmatan, serta mencabar dunia sastera hari ini!

Nokturna dan Karim adalah paradoks sebagaimana ia merayau di dalam dirinya menemukan Aan, Sapardi, Latiff – ingin keluar tetapi dia masuk, lalu bergaul dan berbaur. Dan menjadi kuat dalam kegalauannya.

melihatmu
aku ingin keluar
tetapi aku pintu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *